Jumat, 24 Februari 2012

PENDIDIKAN ISLAM

PENDAHULUAN

A. Pengantar
Islam adalah agama yang menempatkan pendidikan dalam posisi yang vital. Bukanlah sesuatu yang kebetulan jika lima ayat pertama yang diwahyukan Allah kepada Muhammad, dalam surat al-‘Alaq, dimulai dengan perintah membaca, iqra’. Di samping itu, pesan-pesan al-Quran dalam hubungannya dengan pendidikan pun dapat dijumpai dalam berbagai ayat dan surat dengan aneka ungkapan pernyataan, pertanyaan, dan kisah. Lebih khusus lagi, kata ilm dan derivasinya digunakan paling dominan dalam al-Quran untuk menunjukkan perhatian Islam yang luar biasa terhadap pendidikan.
Menegaskan kenyataan di atas, pasangan sarjana muslim komtemporer, Ismail Raji al-Faruqi dan Lois Lamya’ al-Faruq, membuat pernyataan bahwa;
“Islam mengidentifikasi dirinya sendiri dengan ilmu. Bagi Islam, ilmu adalah syarat dan sekaligus tujuan dari agama ini”. (Husni Rahim, 2001:4)
Ilmu adalah kepandaian tertentu. Dan ilmu pengetahun merupakan sumbangan peradaban Islam yang sangat penting kepada dunia modern.
Dengan demikian, pendidikan sebagai bagian dari tatanan kehidupan yang dicita-citakan, pada hakikatnya tak mungkin terlepas dari keterkaitannya dengan ajaran Islam itu sendiri. Pendidikan Islam baru dapat dinilai Islami, hanyalah kalau secara serasi dan konsisten dapat diwujudkan sesuai dengan konsep ajaran al-Quran dan hadits, yang menjadi dasar dan tujuan hidup muslim. Dengan kata lain, pandangan hidup muslim seperti yang termuat dalam ajaran al-Quran dan hadits jugalah menjadi falsafat pendidikan Islam. Adanya hubungan timbal balik seperti ini menyebabkan pendidikan Islam tak mungkin dipisahkan dengan falsafat dan pandangan hidup muslim itu sendiri.
Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Quran (1994:172) menerangkan bahwa;
Al-Quran mengintroduksikan dirinya sebagai “pemberi petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus” (QS 17:19). Petunjuk-petunjuk-nya bertujuan memberi kesejahteraan dan kebagiaan bagi manusia, baik secara pribadi maupun kelompok, dan karena itu ditemukan petunjuk-petunjuk bagai manusia dalam kedua bentuk tersebut. Rasulullah saw., yang dalam hal ini bertindak sebagai penerima al-Quran, bertugas untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk tersebut, menyucikan dan mengajarkan manusia (QS 62:2). Menyucikan dapat diidentikkan dengan mendidik, sedangkan mengajar tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisika serta fisika.
Sehubungan dengan uraian di atas, dalam makalah ini akan dibahas tentang pendidikan Islam dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan Pendidikan Islam?
2. Apa saja tujuan yang ingin dicapai dari pendidikan Islam?
3. Apa saja fungsi pendidikan Islam ?

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pendidikan Islam
Dalam bahasa Arab, pendidikan diartikan dengan Tarbiyah yang berasal dari bahasa Arab : pertama : raba – yarbu ((ربا – يربو yang artinya berkembang;
kedua : rabiya – yarba (ربي - يرب) artinya tumbuh;
ketiga : rabba – yarubbu (رب - يرب) yang berarati memperbaiki, bertanggung jawab kepadanya, memeliharanya, atau mendidik;
kesemuanya dapat diartikan dengan kegiatan yang merupakan aktifitas yang berkaitan dengan proses pendidikan pembelajaran.
Pendidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. yang ajarannya berdasarkan al-Quran dan hadits.
Pendidikan – yang kata itu juga dilekatkan kepada Islam – telah didefinisikan secara berbeda-beda oleh orang-orang yang berlainan sesuai dengan pendapatnya masing-masing. Tetapi semua pendapat itu bertemu dalam pandangan yang sama, Azyumardi Azra (1998:3) bahwa “Pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien”.
Pendidikan lebih daripada sekedar pengajaran. Karena dalam kenyataanya, pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa atau Negara membina dan mengembangkan kesadaran diri di antara individu-individu. Dengan kesadaran tersebut, suatu bangsa atau Negara dapat mewariskan kekayaan budaya atau pemikiran kepada generasi berikutnya, sehingga menjadi inspirasi bagi mereka dalam setiap aspek kehidupan.
Oleh karena itu, pendidikan benar-benar merupakan latihan fisik, mental dan moral bagi individu-individu, supaya mereka menjadi manusia yang berbudaya. Sehingga mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia dan menjadi warga negara yang berarti bagi suatu Negara.
Ki Hajar Dewantara (Masalah Kebudayaan, 1967:42) menyatakan; “Pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intellect) dan jasmanai anak-anak, selaras dengan alam dan masyarakatnya”.
Mohammad Natsir dalam tulisannya; “Idiologi Didikan Islam” (1954:87), menulis; “yang dinamakan didikan, ialah satu pimpinan jasmani dan ruhani yang menuju kepada kesempurnaan dan kelengkapan arti kemanusiaan dengan arti sesungguhnya”.
Setelah menguraikan pengertian pendidikan secara umum, selanjutnya akan membahas pengertian tentang pendidikan Islam. Dr. Yusuf al-Qardhawi (Pendidikan Islam dan Madrasah Hasan al-Banna, 1980:39) memberi pengertian “pendidikan Islam” sebagai berikut;
Pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhnya; akal dan hatinya, rohani dan jasmaninya; akhlak dan keterampilannya. Karena pendidikan Islam menyiapkan manusia untuk hidup, baik dalam dan perang, dan menyiapkan untuk menghadapi masyarakat dengan segala kebaikan dan kejahatannya, manis dan pahitnya.
Secara agak tehnis endang Syaifuddin Anshori memberikan pengertian pendidikan Islam dalam bukunya Pokok-pokok Pikiran tentang Islam (1976:85) adalah;
Proses bimbingan (pimpinan, tuntunan, usulan) oleh subjek didik terhadap perkembangan jiwa (pikiran, perasaan, kemauan, intuisi dan lain sebagainya) dan raga objek didik dengan bahan-bahan materi tertentu dan dengan alat perlengkapan yang ada ke arah terciptanya pribadi tertentu disertai evaluasi sesuai dengan ajaran Islam.
Hasan Langgulung (Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam, 1980:94) merumuskan pendidikan Islam sebagai “proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat”.
Pengertian ini memperlihatkan perbedaan pendidikan umum dengan pendidikan Islam. Perbedaan lebih jelas dapat dilihat jika kita kembali kepada salah satu pengertian pendidikan (umum) yakni bahwa ia adalah proses pemindahan nilai-nilai budaya dari suatu generasi ke generasi berikutnya. Perbedaan itu adalah menyangkut nilai-nilai yang dipindahkan. Dalam pendidikan Islam nilai-nilai yang dipindahkan itu berasal dari sumber-sumber nilai Islam yakni al-Quran, Sunnah, dan Ijtihad. Nilai-nilai itulah yang diusahakan pendidikan Islam untuk dipindahkan dari satu generasi kepada generasi selanjutnya, sehingga terjadi kesinambunan ajaran-ajaran Islam di tengah masyarakat.
Oleh sebab itu, pendidikan Islam adalah suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. melalui proses pendidikan seperti itu individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi supaya ia mampu menunaikan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi, dan berhasil mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
B. Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah haluan yang dituju, arah yang dituju; maksud, keinginan.
Dan menelaah pengertian-pengertian pendidikan Islam, jelas terkandung tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan Islam. Karena itu, pembahasan tentang tujuan pendidikan Islam itu perlu dijelaskan lagi.
Yang pasti, pendidikan Islam ditujukan mulai kepada anak usia dini, remaja, dewasa dan lanjut usia sekalipun, dalam istilah pendidikan disebut long laive education atau pada pendidikan Islam lebih dikenal dengan sebutan :
اطلب العلم من المهد الى اللحدى.
Terbentuknya kepribadian utama berdasarkan nilai-nilai dan ukuran Islam adalah salah satu tujuan pendidikan Islam. Tetapi seperti pendidikan umum lainnya, tentunya pendidikan Islam tidak terlepas dari tujuan-tujuan yang lebih bersifat operasional sehingga dapat dirumuskan tahap-tahap proses pendidikan Islam mencapai tujuan lebih jauh.
Tujuan pendidikan Islam dimaksudkan adalah tujuan pertama-tama yang hendak dicapai dalam proses pendidikan itu. Tujuan itu merupakan tujuan antara dalam mencapai tujuan akhir yang lebih jauh. Tujuan antara ini menyangkut perubahan yang diinginkan dalam proses pendidikan Islam, baik berkenaan dengan pribadi anak didik, masyarakat maupun lingkungan tempat hidupnya. Tujuan antara ini perlu dijelaskan lagi, sehingga pendidikan Islam dapat diukur keberhasilannya tahap demi tahap.
Dr. Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani (Falsafah Pendidikan Islam, 1979:339) menjelaskan tujuan “antara” dalam pendidikan Islam sebagai berikut :
a. Tujuan individual yang berkaitan dengan individu-individu, pelajaran (learning) dan dengan pribadi-pribadi mereka, dan apa yang berkaitan dengan individu-individu tersebut pada perubahan yang diinginkan pada tingkah laku, aktivitas dan pencapaiannya, dan pada pertumbuhan yang diingini pada pribadi mereka, dan pada persiapan yang dimestikan kepada mereka pada kehidupan dunia dan akhirat.
b. Tujuan-tujuan sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat secara keseluruhan, dengan tingkah laku masyarakat umumnya, dengan apa yang berkaitan dengan kehidupan ini tentang perubahan yang diingini dan pertumbuhan, memperkaya pengalaman dan kemajuan yang diingini.
c. Tujuan profesional yang berkaitan dengan pendidikan dan pengajaran sebagai ilmu, sebagai seni, sebagai profesi, dan sebagai suatu aktivitas di antara aktivitas-aktivitas masyarakat.
Proses pendidikan Islam berusaha mencapai ketiga tujuan tersebut, yakni tujuan individual, tujuan sosial, dan tujuan profesional. Ketiga tujuan itu secara terpadu dan terarah diusahakan agar tercapai dalam proses pendidikan Islam. Dengan tujuan ini pula, jelas ke mana pendidikan Islam diarahkan. Pendidikan Islam berdasarkan tujuan di atas, pertama-tama berusaha membekali anak didik dengan ketrampilan-ketrampilan yang perlu bagi kepentingan dirinya dan masyarakat.
Meskipun demikian, tujuan akhir pendidikan Islam tidak lepas dari tujuan hidup seseorang Muslim. Pendidkan Islam itu sendiri hanyalah sutu sarana untuk mencapai tujuan hidup Muslim, bukanlah tujuan akhir. Tujuan hidup Muslim sebagaimana difirmankan Allah Swt;
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُوْا
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku
(QS. al-Dzariyaat, 56)
يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam
(Qs. Ali Imran, 102)

Pendidikan Islam adalah bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam secara keseluruhan. Karena itu, tujuan akhirnya harus selaras dengan tujuan hidup dalam Islam.
Tujuan hidup Muslim sebagaimana dijelaskan ayat-ayat al-Quran di atas, juga menjadi tujuan akhir pendidikan Islam. Yakni untuk menciptakan pribadi-pribadi hamba Tuhan yang selalu bertakwa dan mengabdi kepada-Nya. Sebagai hamba Allah yang bertakwa, maka segala sesuatu yang diperoleh dalam proses pendidikan Islam itu tidak lain termasuk dalam bagian perwujudan pengabidan kepada Allah Swt.
Tujuan tersebut tidak akan mungkin tercapai melalui dogma, atau tutur kata dan nasihat semata, tanpa panutan. Ia hanya dapat dicapai antara lain melalui diskusi yang melibatkan akal pikiran, tutur kata kata yang menyentuh jiwa, serta kisah manusia yang baik dan yang buruk, disertai panutan yang baik dari para pendidik.
Dalam mencapai tujuan pendidikan Islam, tentunya lembaga-lembaga pendidikan seperti yang akan dibahas berikut ini (fungsi pendidikan Islam) tidak berjalan sendiri-sendiri. Harus mendapat jalinan hubungan dan kerjasama yang harmonis serta saling kesamaan langkah dalam proses pendidikan terhadap anak didik, saling melengkapi dan menunjang dalam mencapai tujuan pendidikan Islam sehingga betul-betul terbentuk individu anak didik yang utuh sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.
C. Fungsi Pendidikan Islam
Sebelum membahas tentang fungsi pendidikan Islam, perlu dipahami tentang pengertian lembaga-lembaga pendidikan Islam yang bermacam-macam dalam perkembangan waktu, bertumbuh di bawah pengaruh situasi-situasi tertentu dan untuk melahirkan tujuan-tujuan tertentu pula. Tujuan itu dirumuskan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kehidupan masyarakat Islam yang terus berkembang.
Pembahasan fungsi pendidikan Islam tidak lepas dari pembahasan macam-macam lembaga pendidikan Islam itu sendiri, menjadi suatu kewajaran akan perbedaan, karena pengaruh situasi dan kondisi masyarakat Islam setempat. Antara lembaga pendidikan Islam di Timur Tengah dengan di Indonesia boleh jadi terdapat perbedaan, diakibatkan perbedaan-berbedaan dalam hal geografis, struktur sosial, ekonomi, kebudayaan dan lain-lain. Hali itu dapat dibenarkan, sejauh lembaga-lembaga pendidikan tersebut tidak terlepas dari prinsip-prinsip Islam.
Menurut Ahmad D. Marimba (Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, 1980:57), lembaga pendidikan adalah “Organisasi atau kelompok manusia yang karena satu dan lain hal memikul tanggung jawab atas terlaksananya pendidikan. Badan-badan pendidikan itu bertugas memberi pendidikan kepada si terdidik”.
Lembaga-lembaga pendidikan berusaha menciptkan suatu situasi di mana proses pendidikan dapat berlangsung, sesuai tugas yang dibebankan kepadanya. Kaena itu situasi lembaga pendidikan Islam mesti berbeda dengan situasi pada lembaga pendidikan lain, karena mengingat tugasnya yang khusus dan berbeda pula.
Didasarkan pada fungsi, dan keadaan tugas dari lembaga-lembaga pendidikan Islam dimaksud dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu : keluarga, sekolah, badan-badan pendidikan kemasyarakatn di luar keluarga dan sekolah. Bahkan, ketiga lembaga pendidikan tersebut diistilahkan sebagai “tripusat pendidikan” (Azyumardi Azra, 1998:16).

a. Keluarga
Keluarga sebagai lembaga pendidikan Islam mempunyai peranan penting dalam membentuk generasi muda Muslim. Soelaiman Joesoef dan slamet Santoso (Pengantar Pendidikan Sosial, 1981:20) menyatakan bahwa Keluarga adalah lembaga pendidikan informal, karena;
Pendidikan informal, adalah kegiatan pendidikan yang tidak diorganisasi secara struktural dan tidak mengenal sama sekali penjenjangan kronologis menurut tingkatan umum maupun tingkatan ketrampilan dan pengetahuan. Persyaratan credentials tidak dipakai dan oleh karena itu tidak ada credentials yang dihakkan oleh penerima maupun yang diwajibkan dari pemberi pendidikan.
Meskipun keluarga, berstatus lembaga pendidikan informal dalam Islam, tetapi ia merupakan pendidikan pertama dan terutama bagi anak didik. Apa-apa yang terjadi dalam keluarga merupakan proses pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak selanjutnya. Sikap keagamaan, akhlak, akal pikiran, tingkah laku sosial dan budaya anak banyak dibentuk oleh pendidikan dalam keluarga.
Karena itu tepat sekali Nabi Muhammad bersabda;
كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ حَتَّى يَعْرَبَ عَنْهُ لِسَانَهُ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ.
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci sampai ia dapat berbicara. Maka orang tuanyalah yang mayahudikannya, menasranikannya, atau memajusikannya.

Dalam hal tugas keluarga ini, faktor lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh. Karena itu, keluarga harus menjaga anak agar tidak bergaul dan masuk ke lingkungan yang tidak baik. Al-Ghazali dalam Panji Masyarakat (1982:23) menegaskan, “Melatih anak-anak agar mempunyai karakter yang baik, terutama merupakan tanggung jawab orang tua”.

b. Sekolah-sekolah
Pendidikan di sekolah, biasanya disebut pendidikan formal, karena ia “adalah pendidikan yang mempunyai dasar, tujuan, isi, metode, alat-alatnya disusun secara eksplisit, sistematis dan distandarisasikan”.
Keluarga menyerahkan anaknya ke sekolah, supaya sekolah mendidik anak sebaik-baiknya. Orang tua tidak dapat melaksanakan pendidikan secara sistematik dan standar umum. Karena itu, sekolah diharapkan dapat menyempurnakan pendidikan anak. Sekolah memberi dan melengkapi pendidikan dengan pengajaran yang tidak didapat di keluarga.
Ketika anak mencapai usia lebih kurang 6 tahun, perkembangan intelek dan daya berpikir mereka telah berkembang sedemikian rupa, sehingga telah cukup matang untuk belajar dasar-dasar pengetahuan. Pengetahuan umum yang diberikan berfungsi melatih dan menyiapkan anak untuk mampu berpikir dan bekerja.
Sekolah di samping itu hendaklah memberikan pula pendidikan keagamaan, akhlak, sesuai dengan ajaran-ajaran agama. Pendidikan agama yang diberikan jangan bertentangan dengan pendidikan agama yang telah diberikan keluarga. Karena “si anak akan dihadapkan dengan pertentangan nilai-nilai, sehingga mereka akan bingung dan kehilangan kepercayaan”.
c. Badan-badan Pendidikan kemasyarakatan di luar keluarga dan sekolah
Lembaga pendidikan Islam selanjutnya adalah pendidikan kemasyarakatan. Lembaga pendidikan ini berorientasi langsung kepada hal-hal yang bertalian dengan kehidupan. Pendidikan masyarakat merupakan pendidikan menunjang pendidikan keluarga dan sekolah.
Dalam perkembangannya, lembaga pendidikan Islam ini, menjadi sarana pengembangan pribadi ke arah kesempurnaan sebagai hasil dari pengumpulan dan latihan secara terus-menerus. Bahkan, pendidikan kemasyarakatan Islam dewasa ini banyak menekankan kepada kebutuhan praktis ekonomis, baik dalam bidang sosial, budaya maupun agama. Karena itu pendidikan kemasyarakatan ini termasuk ke dalam lembaga pendidikan non formal.
Karena itu lembaga pendidikan kemasyarakatan Islam dapat mengambil bentuk, organisasi kepanduan, perkumpulan pemuda, olahraga, kesenian, remaja masjid, majlis taklim, koperasi, pusat ketrampilan dan latihan, partai politik, perkumpulan agama dan lain-lain. Semua lembaga seperti ini dapat difungsikan dalam mengemban misi pendidikan Islam.

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan dari penyampaian makalah yang membahas materi Ilmu Pendidikan Islam tentang pengertian, tujuan dan fungsi pendidikan Islam ini adalah sebagai berikut :
1. Pendidikan Islam adalah suatu proses pembentukan individu berdasarkan ajaran-ajaran Islam yang diwahyukan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad Saw. Melalui proses pendidikan seperti itu individu dibentuk agar dapat mencapai derajat yang tinggi supaya ia mampu menunaikan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi, dan berhasil mewujudkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
2. Tujuan pendidikan Islam adalah tujuan antara dan tujuan akhir untuk mencapai yang lebih jauh. Tujuan antara itu menyangkut perubahan yang diinginkan dalam proses pendidikan Islam, baik berkenaan dengan pribadi anak didik, masyarakat maupun lingkungan tempat hidupnya melalui proses individual, sosial dan profesional. Dan tujuan akhir menyangkut tentang tujuan hidup Muslim yaitu bahagia dunia dan akhirat.
3. Fungsi dan keadaan tugas dari lembaga-lembaga pendidikan Islam yaitu : keluarga, sekolah, badan-badan pendidikan kemasyarakatn di luar keluarga dan sekolah. Ketiga lembaga pendidikan tersebut diistilahkan sebagaia “tripusat pendidikan”.

B. Harapan
Semoga bermanfaat.


DAFTAR PUSTAKA

Akh. Muzzakki & Kholilah. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Surabaya : Kopertais IV Press
Azra, Azyumardi. 1998. Esei-esei Intelektual Muslim & Pendidikan Islam. Jakarta : Logos
Azra, Azyumardi. 2003. Surau Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan Modernisasi. Jakarta : Logos
Connell, Helen. 2003. Reformasi Pendidikan. Jakarta : Logos
Jalaluddin & Usman Said. 1996. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Raja Grafindo Persada
Hoppers, Wim. 2004. Pengembangan Orientasi Pendidikan Dasar. Jakarta : Logos
Michael Stanton, Charles. 1994. Pendidikan Tinggi dalam Islam. Jakarta : Logos
Nuryanis. 2003. Panduan Pendidikan Agama Islam pada Masyarakat. Jakarta : Departemen Agama
Rahim, Husni. 2001. Arah Baru Pendidikan Islam di Indonesia. Jakarta : Logos
Shihab, Quraish. 1994. Membumikan Al-Quran. Bandung : Mizan

Sabtu, 18 Februari 2012

Tuntun hamba...

Sejenak ku terdiam di langkahku… remang-remang ku mulai bisa membacanya... di depanku ada 3 persimpangan dengan tulisan ; - lajur I, Pendidikan - lajur II, Pekerjaan - lajur III, Pertunangan ________________________---___________________________ # di lajur I, ini adalah idealisme… Kesempatan yang jarang datang lagi dan ketika waktu masih sangat bersahabat untuk melalui jalan panjang ini. Seakan-akan ini adalah duniaku yang sempat hilang.. Yang sempat mengajariku tentang ketulusan, keberanian dan kejujuran. # di lajur II, ini adalah ekpresionisme… Tonggak dan penopang kekuatan selama di langkah ini yang menawarkan tentang ketangguhan, kesungguhan sekaligus kerja cerdas.. bukan hanya sebatas kerja keras. Sebab niat – tekad – nekat yang kuat, ku mulai mengerti tentang arti setetes keringat. Seakan-akan aku akan hidup selamanya dengan kebahagiaan duniawi.. Yang sempat memberiku tentang perjuangan, pengorbanan dan ketulusan. # di lajur III, ini adalah inspirasionisme… Ku tegak berdiri, sanggup melangkah karena Engkau selalu ada di tiap alur nadiku… di sadar maupun di tidurku. Seakan-akan semuanya akan bermuara pada satu keindahan hakiki arti sebuah kasih sayang. Yang sempat mengenalkanku tentang cinta, airmata dan kerinduan. * &&& * Ya Tuhan… @ jika pendidikan itu adalah tempat untuk mendapat kedamaian hati,,, terangilah hamba untuk menjalaninya. Dan bila itu tidak,,, tegaskan untuk kembali melangkah ke yang telah baik. @ jika pekerjaan ini adalah wahana menimba pengalaman sebagai tabungan menjalani fitrah-Mu,,, kuatkan hamba untuk kembali bersungguh-sungguh mencari rizqi-Mu. Dan bila belum saatnya sekarang,,, berikanlah nanti kesempatan yang lebih baik lagi, di waktu – tempat – keadaan yang lebih barokah. @ jika pertunangan adalah kodrat untuk segera meraih ridla-Mu,,, tuntun hamba menemukan – mengenal – menyapa dalam kebersamaan yang selalu indah di mawaddah warahmah. Dan bila saatnya belum baik,,, segerakan !!! sadarkan hambat tuk tak lagi selalu mengharapnya di hidup ini. ( Bismillah… Al-Hamdulillah… Allahumma Inni As’aluka Ziyadatan Fil ‘Ilmi Nafi’an… Wa Barakatan Firrizqi Halalan Tayyibah… Tsumma Ijhal Fi Qalbina Mahabbatan Wamawaddatan Warahmah… ‘Ala Ridlaillah Wa Walidina… Amiin Ya Rabbal Alamiin. )

waktu...

karena ketidaktahuan mengajarkan hidup untuk terus belajar sebab ketidakmampuan memberi pengalaman agar selalu berkarya oleh logika yang menggurui setiap alur sepaya terus tersenyum menatap masa tak ada yang sanggup mematahkan keyakinan kecuali oleh usangnya waktu yang bersandar pada bedanya kenyataan kemaren,,, kini,,, esok dan lusa apapun itu, selalu mengalir do'a adalah yang terbaik.